Minggu, 14 September 2014

Bianglala Senja


 
Desember 2013
Senja baru saja selesai mempersiapkan malamnya ketika hujan rintik-rintik yang sedari tadi memeluk hari ini berubah menjadi hujan deras yang seketika memicu keluhan orang-orang disekitarku, meski aku tak memungkiri kalau aku sempat mendengus sebal ketika melirik jendela yang berada di dekat mejaku dan mendapatinya basah karena air hujan. Tapi entah mengapa kesebalanku pada hujan menjadi sebuah kerinduan saat mataku menatap sebuah pemandangan yang begitu indah, sebuah bianglala yang tidak begitu besar, berdiri menjulan menantang hujan. Diam-diam aku mengulum senyum, teringat seseorang yang begitu menyukai bianglala.
Ketika pikiranku mulai berkelana kembali ke masa lalu, mendadak saja notification di android-ku berbunyi, menyentakkanku kembali ke masa kini, di ruang kerjaku disenja yang dingin dengan ditemani hujan deras yang menampar-nampar jendela ruang kerjaku, meminta untuk diijinkan masuk. Dengan enggan, aku meraih android-ku dan memeriksanya, seketika mataku terbelalak tak percaya. Benarkah apa yang kulihat saat ini? Atau aku hanya berkhayal? Aku menatap android-ku itu selama semenit penuh, dan ketika email yang baru saja masuk ke android-ku itu tidak berubah nama pengirimnya, segera saja aku beralih pada laptopku dan membuka emailku disana.

Rabu, 20 Agustus 2014

Izinkan Dia Untukku, Tuhan…



Izinkan dia untukku, Tuhan…
Izinkan ia menjadi milikku
Menjadi tempatku untuk bersandar
Menjadi tempatku untuk pulang

Izinkan dia untukku, Tuhan…
Hanya itulah pintaku
Hanya itulah inginku

Izinkan dia untukku, Tuhan…
Izinkan segalanya menjadi sederhana
Izinkan segalanya menjadi indah


Izinkan dia untukku, Tuhan…

Aku Tanpamu…



When you took it all you forgot your shadow…
*Sam Tsui – Shadow

Dear Samudra…

Ketika kamu membaca surat ini, aku pasti sudah berada di pesawat menuju Sorbonne. Ya, aku memutuskan untuk mengambil beasiswaku, maaf tidak memberitahu kamu sebelumnya dan membicarakannya secara langsung.

Aku memiliki banyak waktu bersamamu, tapi aku tak pernah bisa mengucapkan selamat tinggal secara langsung. Aku tidak sanggup. Aku tahu, aku tidak memiliki tempat dihatimu, tapi sejak hari pertunangan kita, kamu memiliki tempat tersendiri dihatiku, sebuah tempat yang hanya akan kamu miliki, baik dulu sekarang atau pun nanti.

Aku tidak ingin meminta cintamu lewat surat ini. aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal dan aku juga ingin bilang kalau aku memutuskan untuk menyerah. Mungkin memang bukan aku wanita yang akan memenangkan hatimu dan aku menerima kenyataan itu. Bersama surat ini, aku menyertakan cincin yang kamu berikan dihari pertunangan kita. Aku sudah tidak pantas mengenakannya lagi, dan suatu hari nanti aku yakin kamu akan menemukan seseorang yang pantas memakainya. Hanya saja maukah kamu berjanji satu hal untukku? maukah kamu berjanji kalau kamu akan bahagia?
Terimakasih atas semua kesempatan yang kamu berikan untukku. semoga kamu akan segera menemukan kebahagiaan yang sejati…

Bria

Jumat, 18 Juli 2014

Cinta Satu Arah…



Teorinya… cinta itu datang dari dua arah
Tapi praktiknya… cintaku padamu hanya datang dari satu arah

Kamis, 26 Juni 2014

Tugas Sejarah : Opini

Robespierre, Sang Pemimpin Regin Of Terror Yang Berakhir Dengan Pisau Guillotine

Maximilien Robespierre atau yang lebih sering dikenal dengan Robespierre adalah salah satu pemimpin golongan Jacobin atau golongan revolusioner yang menjadi pemegang kekuasaan Prancis secara de facto melalui Komite Keselamatan Publik. Pemerintahan secara de facto  oleh Robespierre dimulai ketika monarki absolut runtuh yang ditandai dengan dieksekusinya Raja Louis XVI dan berakhir dengan kematian Robespierre.

Minggu, 01 Juni 2014

ANALISIS LAHIRNYA PAHAM LIBERALISME DI PERANCIS

ANALISIS LAHIRNYA PAHAM LIBERALISME DI PERANCIS

Athollah Athene Risti dan Almira Annora Dewanti
Program Studi Bahasa dan Sastra Perancis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Abstrak
Liberalisme pertama  kali dikobarkan oleh masyarakat Perancis golongan III  pada abad  ke-18. Liberalisme tidak dapat lepas dari pengaruh  revolusi Perancis. Liberalisme adalah aksi protes masyarakat Perancis golongan III terhadap hak dan kewajiban  yang tidak sama dengan  hak dan kewajiban  golongan I dan II. Golongan  I dan  II mendapat banyak hak dan sedikit kewajiban berbanding terbalik dengan golongan III. Faktor pendorong lahirnya liberalisme ada dua. Pertama, adanya golongan-golongan  dalam struktur Perancis di antaranya golongan I, II, dan III. Kedua, kesewenang-wenangan pemerintah Perancis terhadap golongan III.  Sebelum adanya revolusi dan liberalisme, raja berlaku tidak adil tentang hak dan kewajiban yang dimiliki oleh golongan  I, II, dan III.  Dampak dari liberalisme di antaranya raja tidak bisa lagi berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat golongan III karena adanya undang-undang. Undang-undang tersebut mengatur dan membatasi perilaku raja terhadap rakyatnya. Selain itu setelah lahirnya liberalisme di Perancis golongan III berhasil mendapatkan haknya kembali. Hak golongan III setara dengan hak yang dimiliki oleh golongan I dan II. Begitu pula dengan golongan  I dan II yang mendapatkan kewajiban yang sama rata dengan golongan III.

Kata Kunci : Liberalisme, Revolusi Perancis, Golongan I, II, dan III